Banner
jardiknaswikipedia Indonesia
Login Member
Username:
Password :
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat
Statistik
  Visitors : 965 visitors
  Hits : 126 hits
  Today : 28 users
  Online : 1 users
:: Kontak Admin ::

   
Agenda
22 May 2018
M
S
S
R
K
J
S
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Mendiknas M. Nuh: Jangan ada lagi sekolah bocor dan roboh

Tanggal : 10/23/2009, 10:54:21, dibaca 51 kali.
Jakarta, 22/10/2009 (Kominfo-Newsroom) - Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh mengatakan, sebagai menteri baru di Depdiknas dirinya akan belajar banyak hal tentang pendidikan, dan walaupun latar belakangnya adalah pendidik, namun Nuh mengakui belum mengetahui banyak tentang dunia pendidikan secara menyeluruh. "Saya akan menyelesaikan semua pekerjaan yang belum selesai, karena ini semua hasil dari program kerja 2009. Untuk tahun 2010 semua sudah diatur, anggaran juga sudah diteken, jadi saya tinggal melanjutkan apa yang sudah diprogramkan sebelumnya," katanya Nuh kepada wartawan di Depdiknas, Jakarta, Kamis (22/10) malam, usai serah terima jabatan dengan Mendiknas (lama) Bambang Sudibyo. Program utama untuk 100 hari kerja, katanya, yang pertama diharapkan sudah tidak ada lagi sekolah yang bocor atau roboh. "Itu sudah tidak ada lagi dalam cerita dan sejarah, semua sekolah harus dalam kondisi kokoh," katanya. Pilar kedua, biaya sekolah harus terjangkau. Ia mengakui bahwa untuk mendirikan sekolah yang berkualitas dipastikan memerlukan biaya yang mahal, namun ia akan mengupayakan agar biaya sekolah bisa terjangkau masyarakat. Ia juga menyatakan agar hasil pendidikan nasional harus menghasilkan lulusan yang berkualitas sehingga bisa langsung dan mudah mendapatkan pekerjaan atau diserap pasar. Sedangkan mengenai ujian nasional (UN), ia menyatakan akan tetap melanjutkannya. Untuk tingkat SD, katanya, ada UASBN (ujian akhir sekolah berstandar nasional), kemudian untuk tingkat SMP, SMK/MA/SMA ada UN. "Dari SD sampai SLA hasil dari UN itu sudah bisa diaplikasikan, sehingga ketika anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya tidak perlu tes lagi. Tetapi untuk ke jenjang perguruan tinggi, dari SLA belum bisa dipergunakan," katanya. "Saya tidak akan menghapus, mengurangi atau menambahkan, tetapi melanjutkan program yang sudah dilaksanakan lebih dulu. Kemudian apabila nanti hasil UN di SMA/SMK/MA bisa digunakan untuk masuk ke perguruan tinggi, kenapa tidak?" kata M. Nuh yang sebelumnya adalah Menteri Komunikasi dan Informatika. Sedangkan mengenai pembiayaan UN yang dinilai masih mahal oleh masyarakat, ia mengatakan sangat mungkin ke depan UN bisa diintegrasikan. "Dengan menggunakan nilai tes atau UN SLA untuk masuk ke perguruan tinggi, maka itu akan mengurangi pembiayaan," katanya. (Ad/ysoel) Kominfo Newsroom Jumat, 23 Oktober 2009

Kembali ke Atas


Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : aa -  [aa@aa.com]  Tanggal : 18/03/2010
a coba test

Pengirim : alan -  [alanrm82@yahoo.com]  Tanggal : 18/03/2010


   Kembali ke Atas